LAMPU TANPA LISTRIK?

Halo sahabat Sains dan Teknologi

Saat merancang bangunan, isu utama yang menjadi pertimbangan arsitek adalah pencahayaan. Sumber paling utama untuk itu adalah matahari, sebagai sumber cahaya alami. Rancangan sebuah ruang akan mempertimbangkan bagaimana pencahayaan yang akan diterimanya. 

Setiap arsitek, dimana pun dia berada, akan selalu mempertimbangkan posisi matahari pada rancangan bangunannya. Pertanyaan yang perlu dijawabnya adalah, bagaimana cara memasukkan cahaya matahari pada siang hari?

Salah satu solusi untuk pertanyaan di atas adalah dengan memasang skylight pada bangunan. Akan tetapi, jika memasang skylight konvensional, kita dihadapkan dengan beberapa kekurangannya, diantaranya adalah:

  • Terlalu banyak memakan tempat di atap rumah
  • Hanya efektif jika ukurannya cukup besar (relatif terhadap ukuran ruangan)
  • Tidak bisa menjangkau sudut-sudut rumah yang tidak dapat mengakses atap
  • Harga pemasangannya relatif mahal.
  • Kaca skylight biasa mudah ditempeli debu sehingga harus sering-sering dibersihkan.

Solatube adalah solusi untuk permasalahan di atas. Inovasi teknologi skylight ini mampu “mengalirkan” cahaya matahari dari luar yang kemudian dimanfaatkan untuk menerangi ruangan sama sekali tanpa listrik.

Lah, kok bisa cahaya dialirkan lewat pipa? CAHAYA lho itu, bukan air!

Solatube memiliki teknologi canggih untuk menangkap cahaya matahari di atas atap dari berbagai sudut kemiringan. Di bagian atas paling atas, Solatube memiliki teknologi penangkap cahaya bernama Raybender 3000; yaitu sebuah lensa berbentuk dome yang didalamnya terdapat teknologi lapisan reflektif. 

Cahaya yang ditangkap tersebut kemudian di transfer menggunakan Pipa Spectral ke titik-titik pencahayaan di dalam ruangan. Bagian dalam Pipa Spectral tersebut juga dibuat menggunakan material paling reflektif di dunia, sehingga mampu memantulkan 99.7% cahaya yang ditangkap oleh Raybender. Cahaya tersebut kemudian dialirkan sampai jarak maksimal +/- 9 meter (30 feet). Jadi, pada siang hari, ruangan-ruangan gelap dalam bangunan, bahkan ruang bawah tanah sekalipun, dapat diterangi menggunakan cahaya alami dari matahari tanpa menggunakan listrik.

Sola tube juga memiliki teknologi agar suhu dalam ruangan tidak keluar melalui pipa spectral, dan panas dari luar tidak masuk ke dalam. Hal ini membuat Solatube hanya akan mendistribusikan cahaya dari luar ke dalam ruangan tanpa mempengaruhi manajeme suhu ruangan. Dengan demikian, solatube menjadi solusi pencahayaan ruang untuk diimplentasi oleh arsitek pada rancangannya tanpa harus pusing memikirkan efek samping perubahan suhu yang mungkin terjadi.

Selain membuat lampu tanpa listrik tersebut, Solatube juga menginovasi produknya dengan meletakkan panel surya dan LED didalam Pipa Spectral. Ketika sensor mendeteksi cahaya menjadi gelap (misal, saat malam datang), lampu LED akan menyala otomatis sepanjang malam sampai matahari terbit kembali. Jadi, walaupun tidak ada cahaya dari matahari, solatube masih dapat menjadi penerang tanpa harus menggunakan listrik PLN sehingga tetap mempertahankan ide awalnya: lampu tanpa listrik.

Saat Solatube menyala, baik tanpa listrik di siang hari, atau pun dengan LED-nya di malam hari, kita akan menemukan saat-saat dimana kita tidak menginginkan adanya cahaya. Nah, Solatube memiliki sistem dimmer untuk menutup sumber cahaya dan mengontrol seberapa cerah ruangan sesuai keinginan.