MANUSIA, ALGA, DAN ENERGI MASA DEPAN

Halo sahabat Sahabat Sains dan Teknologi

Hampir semua negara di dunia, terutama negara-negara maju, saat ini sedang berlomba-lomba untuk menemukan sumber energi alternatif. Hal ini disebabkan oleh tingkat polusi dunia yang sudah mencapai ambang kritis.

Sejak dimulainya revolusi industri seratus tahun yang lalu, teknologi manusia telah berkembang sangat pesat. Bayangkan saja, awalnya manusia yang memanfaatkan kuda sebagai sarana transportasi utama kini telah berubah menjadi mobil yang kecepatannya ratusan kali lebih cepat dari kuda. 

Sayangnya, teknologi canggih yang kita miliki saat ini memakan terlalu banyak energi.

Pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara (Viktor Kiryanov, Bulgaria)

Sampai saat ini, energi fosil masih lebih murah dan lebih mudah didapatkan dari pada sumber energi terbarukan (renewable energy) sehingga manusia masih bergantung pada sumber energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara. 

Dibutuhkan usaha ekstra agar semua warga di suatu negara dapat berpindah menggunakan 100% sumber energi terbarukan. Peneyebabnya, sumber energi alternatif yang tersedia saat ini masih memiliki banyak kekurangan, terutama dari segi biaya untuk membangun fasilitasnya dan tingkat efisiensinya. Dalam dekade terakhir ini, para ilmuwan telah berusahan mencari cara untuk menanggulangi tantangan tersebut. 

Usaha para ilmuwan itu tidak sia-sia. Kita tidak harus menunggu selama jutaan tahun untuk dapat memanfaatkan tumbuhan sebagai sumber energi. Ada satu  tumbuhan dapat langsung diolah menjadi sumber energi, baik itu sebagai sumber Bahan Bakar Minyak (BBM) maupun sumber energi listrik. 

Tumbuhan itu adalah Alga.

 

Alga adalah tumbuhan hijau yang hidup di air. Warna hijaunya berasal dari klorofil. Artinya, Alga dapat memproduksi makanannya sendiri melalui proses fotosintesis; sama seperti tumbuhan hijau lainnya seperti pohon mangga, jagung, durian, dan sebagainya.

Pemanfaatan alga untuk memenuhi kebutuhan manusia bukanlah hal baru. Budidaya (pengembang-biakan) Alga (Algaculture) telah  dilakuakan sejak 1500 tahun yang lalu di Jepang untuk memproduksi bahan baku Nori yang biasa digunakan pada sushi. Di abad ke 16 pun bangsa Aztec juga sudah mulai memanen alga micro yang bernama spirulina. 

Sampai saat ini, usaha budidaya alga telah menjadi bisnis besar dunia yang nilainya mencapai $6 miliar dolar AS. Bisnis besar ini dapat menjadi lebih besar lagi karena alga memiliki potensi sebagai sumber energi masa depan, seperti yang dinyatakan oleh peneliti asal Universitas Rutgers, New Jersey, Amerika Serikat.

Tubuh alga terdiri dari 40% lemak yang dapat diekstraksi dan dikonversi menjadi biodiesel. Efisiensi produksi biodiesel dari alga jauh melebihi tumbuhan-tumbuhan lain seperti kedelai atau jagung. Selain dapat dimanfaatkan sebagai biodiesel, beberapa jenis alga yang lain juga dapat dikonversi menjadi bensin dan bahkan menjadi bahan bakar pesawat jet. Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah kelebihan-kelebihan Alga:

Produksi Biofuel

  • Alga dapat tumbuh dengan cepat. Tumbuhan lain butuh beberapa bulan, bahkan tahunan, sebelum cukup dewasa untuk dikonversi menjadi energi. Bandingkan alga yang dapat tumbuh dewasa hanya dalam waktu satu hari.
  • Efisiensi pemanfaatan energi oleh Alga jauh lebih tinggi karena Alga tidak memiliki akar, batang, atau ranting. Tumbuhan yang hidup di atas tanah menkonversi 95% energinya struktur tubuhnya, untuk makanan, berkembang biak.

Produksi Ethanol

Selain dari minyak, tubuh alga juga terbuat dari karbohidrat dan selulosa yang dapat difermentasikan untuk mendapatkan ethanol.

Produksi Metana

Ketika bakteri mengkonsumsi alga, bakteri tersebut akan menghasilkan metana, yaitu gas karbon yang ada di dalam gas alam.

Pengolah Air limbah

Alga dapat hidup di air berpolusi sambil mengikat logam berat di dalamnya. Limbah yang diolah oleh alga dimanfaatkan sebagai pakan ternak, konversi energi, dan logam berat yang diikatnya kemudian dapat didaur-ulang menjadi produk yang lebih berguna.

Alga sebagai Penangkap Karbon

Hasil pembakaran PLTU yang menggunakan batu bara adalah karbon, yaitu gas hitam yang mengepul dari cerobong asapnya. Alga dapat digunakan sebagai penyaring gas karbon tersebut agar tidak mencemari atmosfir, atau gas yang ditangkap dapat dimanfaatkan kembali untuk digunakan sebagai sumber energi.

Budidaya alga lebih mudah.

Alga dapat tumbuh dalam berbagai kondisi air sehingga dia tidak harus berkompetisi dengan tumbuhan lain. Selain itu, alga dapat tumbuh dengan konsenstrasi yang sangat tinggi dalam suatu bidang tanam. Kalau tanaman lain, harus ada jarak tumbuh antar satu dan lainnya sehingga konsentrasi di bidang tanamnya jauh lebih sedikit.

Selain kelebihan di atas, masih banyak potensi alga yang lain bagi manusia. Ini karena masih ada lebih dari 70.000 jenis alga yang ada di bumi dan sebagian besarnya masih belum diteliti.