MATAHARI BUATAN TERBESAR DI DUNIA UNTUK KEBUTUHAN PENELITIAN

Halo sahabat Sains dan Teknologi

Pada bulan Maret 2017 lalu peneliti asal Jerman, Dmitrij Laaber dan kawan-kawan, berhasil membuat matahari buatan terbesar di dunia. Tepatnya, penelitian tersebut dilakukan di Institute of Solar Research, Julich, Jerman.  Akan tetapi, kalian jangan membayangkan matahari buatan ini seperti matahari sungguhan, yang bentuk seperti bola bulat berpijar.

Nama teknologi matahari buatan tersebut adalah Synlight, sebuah alat yang terdiri dari 149 lampu yang kekuatan masing-masingnya setara dengan proyektor besar yang biasa digunakan di bioskop. 

Ketika semua lampu dinyalakan, cahaya dari 149 lampu tersebut di pusatkan pada satu titik untuk mendapatkan kekuatan cahaya 10.000 kali lebih kuat dari cahaya matahari dipermukaan Bumi di siang hari.

Hasil pemusatan cahaya tersebut adalah panas yang suhunya mencapai 3500o C, atau setara dengan 2-3 kali panasnya tungku api yang biasa digunakan untuk pengolahan besi.

Untuk membuat matahari buatan ini dibutuhkan listrik yang tidak sedikit. Saat Synlight dioperasikan selam 4 jam, listrik yang dipakainya sama dengan listrik yang dipakai oleh 1 rumah dengan 4 orang penghuni selama 1 tahun.

Jika banyak makan listrik,

untuk apa Synlight dibuat?

Tujuan adalah untuk menemukan teknologi baru yang mampu menghasilkan listrik dari cahaya matahari yang lebih efektif dan efisien. Jika penelitian dilakukan dengan hanya memanfaatkan cahaya matahari langsung, kualitas cahaya yang diterima kurang kuat dan akan menyulitkan para peneliti. Apalagi untuk wilayah Eropa yang jumlah cahaya mataharinya tidak sebanyak matahari yang diterima Indonesia. Makanya digunakan cahaya matahari buatan agar peneliti dapat mengumpulkan data dan hasil uji coba penelitian yang lebih akurat.

Jadi, listrik dalam jumlah besar tersebut adalah pengorbanan awal yang diambil oleh para peneliti Synlight agar dapat menemukan teknologi photovoltaic yang lebih canggih dan lebih efektif menghasilkan listrik.

Tujuan lainnya adalah untuk menemukan cara memproduksi hidrogen yang lebih efisien. Hidrogen adalah sumber bahan bakar pengganti BBM yang pembakarannya sempurna. 

Jadi, saat digunakan sebagai bahan bakar, hidrogen tidak menghasilkan residu yang merupakan sumber polusi utama saat ini.

Akan tetapi, walau pun jumlahnya banyak, hidrogen tersebut terdapat dalam air (H2O). Untuk memisahkannya dari air, teknologi manusia saat ini masih belum efisien. Nah, diharapkan teknologi Synlight ini dapat menjadi jalan untuk menemukan cara baru tersebut.

Synlight adalah alat untuk mensimulasikan pancaran sinar matahari untuk meng-ekstrak hidrogen dari air. Jika penelitian tersebut berhasil, diharapakan nanti di masa depan, manusia dapat memproduksi hidrogen dengan menggunakan cahaya matahari alami menggunakan teknologi yang lebih efisien.