Penemuan Yang Berkaitan Dengan Bidang Space Update

RATE :
5/5

Lensa Gravitasi Einstein Bisa Menghilangkan Debat tentang Memperluas Kosmos

Lengkungan yang ada dalam struktur ruang – Waktu dapat bertindak layaknya seperti kaca pembesar. Serta hal itu juga dapat membantu memecahkan misteri kosmik tentang laju ekspansi terhadap alam semesta, sebuah studi baru yang sudah ditemukan.

Penelitian ini juga mungkin suatu hari nanti bisa mengarah pada model kosmos yang lebih akurat lagi, yakni yang dapat menjelaskan nasib akhir dari alam semesta, menurut kata para ahli peneliti.

Pada dasarnya alam semesta terus berkembang sejak pada awal kelahirannya, yakni sekitar 13,8 miliar beberapa tahun yang lalu. Dengan mengukur laju ekspansi kosmik hingga saat ini, yang mana dikenal juga dengan sebutan Konstanta Hubble. Kemudian para ilmuwan juga dapat mencoba mempelajari dari nasib alam semesta, diantaranya seperti apakah ia akan mengembang selamanya, runtuh dengan sendirinya maupun akan dapat hancur total nantinya.

Saat ini ada sekitar dua strategi utama yang digunakan untuk mengukur konstanta Hubble. Salah satunya yang termasuk ketika melibatkan pemantauan objek terdekat yang propertinya bisa dipahami dengan baik oleh para peneliti maupun ilmuwan. Misalnya seperti ledakan sebuah bintang yang dikenal juga sebagai Supernova dan dengan kata lain sebagai bintang-bintang yang berdenyut.

Bahkan sering juga yang dikenal sebagai Variabel Cepheid. Bila untuk memperkirakan jarak yang ada pada mereka. Kemudian yang lain juga berfokus pada latar belakang gelombang mikro kosmik. Yakni sebuah radiasi sisa dari Big Bang, dengan tujuan untuk memeriksa bagaimana ia telah berubah dari waktu ke waktu setiap saat.

Namun pasangan teknik ini pada dasarnya telah menghasilkan sekitar dua hasil yang berbeda untuk nilai konstanta Hubble. Data yang terdapat dari latar belakang gelombang mikro kosmik menunjukkan bahwa bila alam semesta mengembang dengan kecepatan sekitar pada angka 41,9 mil (67,5 kilometer) dalam per detik per mega parsec (jarak yang setara dengan sekitar 3,26 juta tahun cahaya). Namun, data dari sebuah supernova serta Cepheid yang ada di alam semesta terdekat menunjukkan sebuah laju sekitar angka 46 mil (74 km) dalam per detik atau per mega parsec.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa sebuah model dari kosmologi standar. Termasuk dalam pemahaman para ilmuwan saat ini yakni tentang struktur serta sejarah alam semesta. Bisa saja mungkin salah. Guna menyelesaikan debat ini, yang dikenal sebagai sebuah konflik konstan Hubble, yang mana dapat menjelaskan evolusi kosmos.

Dalam studi baru juga, bila tim peneliti internasional mengeksplorasi sebuah cara lain. Terutama digunakan untuk mengukur konstanta Hubble. Strategi seperti ini tergantung pada definisi dari gravitasi, yakni menurut teori relativitas umum Albert Einstein. Termasuk juga sebagai akibat massa yang me distorsi dalam ruang-waktu. 

Semakin besar massa dalam suatu benda, maka semakin banyak juga kurva ruang-waktu di sekitar objek tersebut. Bahkan  semakin kuat juga sebuah daya tarikan gravitasi benda tersebut.

Melalui hal itu berarti gravitasi pada dasarnya juga dapat membelokkan cahaya seperti yang dilakukan lensa. Sehingga objek yang dapat dilihat melalui medan gravitasi yang kuat, misalnya seperti yang dihasilkan oleh sebuah galaksi besar, akan diperbesar. 

Pelensaaan Gravitasi juga ditemukan sekitar seabad yang lalu, dan sampai hari ini para astronom juga sering menggunakan sebuah lensa ini untuk melihat fitur yang dengan jarak terlalu jauh dan samar. Terutama untuk dideteksi bahkan dengan sebuah alat teleskop terbesar sekalipun.

Penelitian baru juga menganalisis sebuah lensa gravitasi untuk memperkirakan jarak antara mereka dari Bumi. Kemudian data yang dapat membantu semua para peneliti. Yakni dengan tujuan memperkirakan tingkat di mana alam semesta dapat berkembang dari waktu ke waktu.

” Sebuah Metode baru ini juga memiliki potensi besar untuk memberikan perspektif unik dalam tujuan untuk mengukur konstanta Hubble.” Hal ini sesuai dengan kata pemimpin penelitian Inh Jee, yang sebelumnya yakni merupakan seorang astrofisika wan yang ada di Institut Max Planck untuk Astrofisika di Garching, merupakan negara Jerman, kepada sebuah situs Space.com.

Salah satu kunci lain yang digunakan untuk memperkirakan jarak lensa gravitasi dari Bumi yakni tergantung pada fitur aneh dari pelensaan sebuah gravitasi. Lensa sering kali menghasilkan banyak gambar seperti objek yang memiliki lensa serta yang mengelilingi lensa. Sehingga hal tersebut dapat menghasilkan apa yang disebut dengan ” Einstein Cross.” 

Karena pada dasarnya cahaya yang menciptakan gambar-gambar ini bisa mengambil rute dengan panjang serta yang berbeda di sekitar lensa, maka setiap variasi dalam kecerahan objek lensa tersebut akan terlihat seperti di beberapa gambar sebelum yang lainnya.

Semakin besar massa lensa, maka jelas semakin besar juga pembengkokan cahaya, serta dengan demikian semakin besar juga sebuah perbedaan waktu antara pengamatan sebuah gambar. Para ilmuwan juga dapat menggunakan suatu perincian ini, guna untuk memperkirakan kekuatan medan sebuah gravitasi lensa atau juga massanya. 

Massa itu kemudian nantinya dapat dimasukkan dalam sebuah perhitungan yang digunakan untuk memperkirakan suatu jarak. Tetapi beberapa para ilmuwan pertama-tama akan membutuhkan sebuah pengukuran kunci tambahan.

Kunci lain untuk memperkirakan jarak dari galaksi lensa gravitasi dari Bumi adalah dengan menganalisis posisi dan kecepatan bintang di dalam lensa. Ketika detail ini dikombinasikan dengan perkiraan massa dan kekuatan medan gravitasi galaksi pe lensa, para ilmuwan dapat memperkirakan diameter aktual galaksi pleasing.

Mereka kemudian juga dapat membandingkan sebuah diameter sebenarnya dari galaksi lensa dengan menggunakan diameter semula yang terlihat dari muka bumi. Perbedaan antara nilai ini membantu para peneliti untuk memperkirakan jauh suatu galaksi dari ukuran yang diberikan harus muncul ukuran yang dihasilkannya.

Peneliti menerapkan teknik ini juga pada dua sistem pelensaan gravitasi. Para ilmuwan juga mencapai konstanta Hubble dengan sebuah nilai yakni sekitar 51,2 mil (82,4 km) per detik per mega parsec. 

Meskipun nilai ini termasuk lebih tinggi dari kedua nilai yakni yang lebih mapan untuk konstanta Hubble, Jee juga mencatat bahwa masih ada dari tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi dengan metode ini. 

Maka dengan lebih banyak data yang mengarah pada ke kepastian yang lebih besar, maka teknik ini mungkin bisa berakhir dengan tujuan menyukai satu atau nilai yang ditetapkan lainnya. Bahkan mungkin memang mengarah pada sebuah nilai ketiga yang berbeda.

“Karena hal ini adalah merupakan metode baru dengan ketidakpastian yang besar, kami memiliki banyak ruang untuk meningkatkan sebuah pengukuran,” tutur Jee. Maka untuk metode yang dapat memberikan tingkat presisi yang kompetitif terhadap metode lain. Maka kita membutuhkan sebuah pengukuran gerakan dari bintang yang lebih baik di ruang galaksi lensa.”

Teknik baru ini juga pada dasarnya menawarkan keuntungan yang potensial dibandingkan dengan strategi yang berupaya mengukur sebuah konstanta Hubble berdasarkan latar belakang gelombang dari mikro kosmik.

Bahkan yang terakhir juga sangat bergantung pada salah satu model kosmologi yang dapat bersaing yakni yang digunakan untuk memprediksi evolusi dari alam semesta dari waktu ke waktu. Tutur kata Jee. 

Bila dibandingkan dengan sebuah strategi yang berusaha mengukur konstanta Hubble berdasarkan supernova terdekat maupun variabel Cepheid. Metode ini juga menawarkan keuntungan lain. Dalam strategi itu juga merupakan pengukuran jarak antara objek terdekat mungkin tidak aktif bila memang lingkungan terdekat sedikit berbeda secara signifikan dari alam semesta yang lebih jauh lagi, dia menambahkan.

“Kami juga akan memiliki banyak sistem lensa baru dalam jangka waktu dekat yang akan memungkinkan kami untuk mengurangi beberapa hal yang secara substansial ketidakpastian dari pengukuran kami.” disampaikan oleh rekan penulis studi Sherry Suyu yang ada di Max Planck Institute for Astrophysics.