SEABIN – TONG SAMPAH LAUT OTOMATIS

Halo sahabat Sains dan Teknologi,

Kamu pasti pernah jalan-jalan ke pantai, lalu pergi ke dermaga untuk berfoto dengan matahari terbenam. Akan tetapi, saat sampai di sana kamu melihat betapa kotornya kebanyakan dermaga-dermaga tersebut.

Yah…. Pada dasarnya laut memang dipenuhi sampah. Namun, manusia lah yang memperparah jumlah sampah di laut. Saat arus laut berbalik ke daratan, sampah-sampah tersebut malah kembali berakhir di tempat-tempat yang manusia buat, salah satunya seperti di dermaga. Banyak dermaga rekreasi yang menghabiskan banyak uang untuk menyewa orang membersihkan sampah-sampah di dermaganya. Sayangnya,  sampah tersebut akan selalu datang lagi dan dan lagi karena asalnya sampah adalah dari seluruh lautan nan luas.

Nah, pertanyaannya adalah, adakah untuk cara membersihkan dermaga denga  lebih cepat, murah, dan tidak melelahkan?

Salah satu proyek dinas kebersihan kota kita adalah menyediakan banyak tempat sampah di tempat-tempat umum. Tetapi, kenapa kita tidak menyediakan tempat sampah di laut? YA, itu lah yang dipikirkan oleh para pengembang Seabin Project.

Seabin adalah sebuah inovasi tong sampah yang mengambang di atas permukaan laut. Akan tetapi, lokasi penempatannya tidak bisa di laut lepas, melainkan di tempat-tempat yang bisa diakses oleh manusia. Hal ini disebabkan karena Seabin membutuhkan sumber listrik serta dibutuhkan pekerja yang bertugas untuk mengosongkannya jika sudah penuh, sama seperti petugas kebersihan yang mengosongkan tempat-tempat sampah di pinggir jalan.

Bagaimanakah cara kerja Seabin tersebut?

Seabin diposisikan di lokasi-lokasi dimana sampah paling banyak terkumpul di area sekitar dermaga. Di dalamnya, seabin memiliki alat untuk menghisap air laut yang kemudian mengangkut sampah yang ada di dekatnya secara otomatis. Air laut yang dihisap akan dikembalikan ke laut dan kantong sampah di dalamnya akan menyaring sampah-sampah yang masuk. Kantong sampahnya tersebut bertindak sebagai filter yang bahkan bisa menyaring minyak yang tumpah sehingga tidak mencemari laut. Ketika Seabin sudah penuh, petugas kebersihan harus datang untuk mengosongkannya.

Dalam setahun, setiap 1 Seabin yang dipasang dapat menampung 90.000 kantong kresek, 35.700 gelas plastik, 16.500 botol plastik, dan 166.500 peralatan makan plastik.

Bisa dilihat, kebanyakan sampah yang ada di laut adalah plastik. Siapa kah yang menggunakan plastik kalau bukan manusia? Diperkiran pada tahun 2050, jumlah plastik di laut akan jauh lebih banyak dari jumlah ikan. Kita harus bertindak untuk mencegah perkiraan tersebut, dan itu lah persisnya yang sedang dilakukan oleh orang-orang dibalik Seabin Project ini. Namun kita juga tidak bisa hanya bergantung pada seabin. Langkah kongkrit yang masing-masing dari kita dapat lakukan adalah dengan mengurangi pemakain plastik. Jika masih tetapi memakainya, setidaknya jangan membuang plastik disembarang tempat apa lagi ke laut atau ke sungai.

Seabin telah digunakan di banyak dermaga swasta di Eropa dan mereka telah merasakan manfaatnya. Dermaga menjadi lebih bersih dan pengunjung pun merasa lebih dimanjakan dengan tingkat kebersihan yang ideal. Jika trik ini bermanfaat di sana, tidak ada salahnya kita menerapkan solusi yang sama di negara kita yang merupakan negara maritim. Ada ribuan dermaga di Indonesia yang akan terbantu dengan keberadaan Seabin di tempatnya.

Atau,

Jika penemu Indonesia, baik mahasiswa maupun profesor sekalipun, memiliki ide yang lebih baik, tidak ada salahnya kita mencari solusi baru dan ikut bersaing dengan Seabin secara global.