SIAPKAH INDONESIA DENGAN KEHADIRAN MOBIL LISTRIK?

[sg_popup id="254" event="hover"][/sg_popup]

Halo sahabat Sains dan Teknologi

Selama beberapa tahun terkakhir, mobil listrik telah menjadi topik hangat; sampai-sampai ada yang mengatakan mobil listrik akan menghancurkan industri minyak dunia karena semua mobil tidak lagi menggunakan minyak (BBM). Hal itu mungkin saja akan terjadi karena negara maju seperti Amerika Serikat (AS) secara perlahan telah mulai melakukan transisi beralih menggunakan mobil listrik. Transisi ini pun juga didukung oleh banyak artis-artis besar Hollywood seperti Brad Pit, Tony Hawk, dan Ben Afleck yang terlihat menggunakan mobil listrik keluaran Tesla.

Trend mobil listrik ternyata tidak butuh waktu lama untuk sampai ke Indonesia. Banyak pabrikan dalam negeri yang sudah sejak lama mempersiapkan produksi mobil listrik di Indonesia. Contohnya saja Mitsubishi i-Miev yang bahkan telah mendapatkan STNK resmi dari pemerintah. 

 

Mitsubishi i-Miev di Geneva Motor Show 2016

Namun, jika kita ratakan untuk keseluruhan wilayah Indonesia, 

Apakah Indonesia sudah siap dengan kehadiran mobil listrik? 

 

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang perlu dikaji terlebih dahulu.

Pertama, Masalah banjir di perkotaan. Mobil BBM jika terkena banjir paling hanya mogok. Tapi, kalau mobil listrik terendam banjir bisa jadi akan korsleting dan nyetrum pengguna. Hal ini tentu membahayakan.

Kedua, Budaya pengendara mobil dan motor, serta pejalan kaki Indonesia yang masih buruk. Salah satu kelebihan mobil listrik adalah mesinnya yang nyaris tanpa suara. Seandainya ada orang yang tidak taat aturan dan dia tidak sadar ada mobil lewat, bisa-bisa akan terjadi kecelakaan. Berbeda dengan Jepang atau Eropa yang masyarakat cukup sadar pentingnya taat aturan.

Ketiga, Belum adanya sistem pengolahan baterai yang memadai di Indonesia. Saat ini mobil listrik menggunakan baterai jenis Lithium Ion (Li-Ion), sama seperti baterai handphone. Jumlah baterai yang dipakai mobil listrik pun tidak sedikit. Baterai tersebut, jika dibuang sembarang, dapat mencemari sumber air dan tanah. Jadi, pemerintah masih harus menyediakan sistem pengolahana limbah baterai terlebih dahulu sebelum mobil listrik dapat didistribusikan secara masal pada masyarakat Indonesia.

Keempat, Tidak hanya pada mobil listrik, regulasi pemerintah untuk semua kendaraan listrik masih belum jelas. Jika melihat track-record pemerintah Indonesia dalam mengambil keputusan bidang teknologi, butuh bertahun-tahun sebelum sebuah peraturan diresmikan. Regulasi pemerintah datangnya selalu lambat (seperti aturan untuk taksi online). Masalah kritis dapat muncul sebelum ada regulasi; dan ini membuat produksi kendaraan listrik menjadi bisnis yang beresiko.

Kelima, Infrastruktur yang akan mengakomodasi mobil listrik belum ada. Jika mobil listrik benar-benar dipakai secara luas, maka pemerintah harus dapat menyediakan lokasi-lokasi pengisian ulang. Bisa saja dengan menyediakan lokasi isi ulang di setiap pertamina yang ada. Implementasi untuk pengisian ulang dengan cepat juga butuh modal yang tidak sedikit.

Keenam, Mobil listrik bukan solusi untuk isu lingkungan Indonesia. Penyebab utamanya adalah pembangkit listrik yang ada di Indonesia bukan lah jenis pembangkit yang ramah lingkungan. Memang mobil listrik tidak mengeluarkan emisi, tapi kebanyakan pembangkit listrik kita masih menggunakan bahan bakar fosil. Keberadaan mobil listrik akan meningkatkan permintaan listrik; itu artinya semakin banyak bahan bakar fosil yang harus dibakar untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Jadi, pemerintah harus beralih ke pembangkit listrik yang ramah lingkungan terlebih dahulu sebelum terjun ke mobil listrik.

Banyak hal yang harus kita rombak terlebih dahulu sebelum penggunaan mobil listrik besar-besaran dapat diterapkan di Indonesia. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian UI dan ITB yang menyatakan Indonesia masih belum siap. Butuh beberapa tahun, atau puluhan tahun lagi, bagi Indonesia mempersiapkan segala sesuatunya.